Setiap sore, halaman sanggarnya dipenuhi puluhan anak yang berlatih. Beberapa agen perjalanan menawarkan kerja sama: pertunjukan harian untuk tamu, dengan bayaran tetap. Ia menolak, dan pilihan itu punya konsekuensi.

Rincian dan Dampak

Ia tetap membuka kelas bagi tamu asing yang mau belajar dalam jangka panjang, bukan menonton sebentar.

Pendapatan sanggar bergantung pada iuran murid dan undangan upacara — tidak stabil, tetapi dinilai lebih sehat.

Menurutnya, anak-anak belajar berbeda ketika merasa ditonton dibanding ketika merasa berlatih.

Tarian ini punya tempat dan waktunya. Kalau dipentaskan tiap hari untuk siapa saja, yang tersisa cuma gerakannya.
— Guru tari di Gianyar

Langkah Selanjutnya

Ia kini menyusun kurikulum sederhana agar murid memahami konteks tiap tarian, bukan hanya hafal gerak.

Redaksi The Bali Desk akan terus memantau perkembangan isu ini dan memperbarui laporan begitu ada informasi resmi terbaru dari pihak terkait.